“aisyah adinda kita, yang sopan dan jelita….” terdengar nasyid dari Bimbo yang sangat terkenal itu dari radio yang sedang aku putar di kamarku, tak terasa air mataku mengalir mendengar lantunan lagu itu ” apa kabarnya mba Ros, Afifah si kecil, Joni yang usil dan anak – anak lainnya, semoga mereka baik – baik saja dan dalam lindungan Alloh Azza Wa Jalla”, kuhentikan sejenak kegiatan menulisku dan membuka file diaryku tentang kejadian setahun yang lalu.
“nduk, jadi pulang hari ini??” Tanya simbok sambil mengaduk – aduk mie goreng produk dalam negeri kesukaanku.
“iya mbok, soanya besok mau berangkat ke Jawa Timur, mohon doa restunya” sahutku sambil meneta barang di tas punggungku.
“ati – ati ya nduk kalo di daerah lain, jangan asal”
“nggih mbok”
Motorollaku bergetar, gambar amplop warna biru berkedip – kedip lalu aku buka dengan perlahan, Message received >Tini kos:
“ntr lo pulang bawa lontong yah jeng,…he.. pengin makan lontong nh.. ok2.miss u..”
Ini anak makanan terus yang dipikir, gimana tidak mbedah tuh badan, yah tapi gimana lagi dia satu – satunya temen kosku yang masih bisa diajak berbagi suka dan duka, masih suka minjemin uang kalo aku kanker (kantong kering ..hehehe).
Perjalanan 2 jam membuat aku cukup capek, aku hanya tiduran sepanjang perjalanan. Malam itu gerimis mengguyur solo ketika aku sampai di terminal Tirtonardi.Brrrr!!! dingin menyeruak kala laju motor Tini mengantarku ke kos tercinta.
Pagi Nan Cerah Di Markas Laskar Pena…
“jadi brapa orang yang ikut bang??” tanyaku ke bang Ijul yang sedang membungkus kamera dan laptop ke dalam tas carriernya.
“tau lah Ti, anak – anak pada keder tuh pada males ngikut”
“lha gimana bisa bang??? terus nanti gimana?? Masa Kinanti sendirian??”
“Ya giman lagi, pada sok sibuk semua, dan inilah dan itulah, yah kalo tidak ada kita berdua aja yang berangkat, gimana????”
“ gak mau, Kinanti tetep minta temen cewek, masak berduaan ma Abang, apa kata dunia????”
“dasar, siapa juga yang mau dua – duaan dengan cewek bawel, gak bisa masak kayak kamu Ti..Ti..” ejek bang Ijul sambil berlalu keluar.
“ah…bang Ijul nakal !!!”
Sebuah sandal gabus meluncur ke kepala bang Ijul, TUINK!!!!KENA..YESS!!! rasakan.. !!!
Bang Ijul cuma garuk - garuk kepala sambil berlalu dengan tertawa kecil, sedang aku masih mengetik tugas kuliahku yang harus di kumpulkan jam 1 nanti.
%%%%%%%%
Senja mengiringi laju sedang travel yang di tumpangi bang Ijul, Kinanti dan Sekar mulai memasuki gerbang “SELAMAT DATANG PROBOLINGGO”. Dan mulai masuk ke jalan Jalan Panglima Sudirman atau yang dulunya disebut Grote Postweg.
“wuih!!! Liat Kinanti gerbange gede…xixixix, asri yah…pohon semua, kayak di Balekambang…hahaha” celoteh Sekar tidak hentiknya ketika baru saja memasuki kota Probolinggo.
“kamu itu mbok ga usah gumunan gitu tho.. biasa aja gtu lho.. “
“iya – iya, kamu kan sudah sering jalan – jalan Ti, lha aku kan baru pertama kali ke Jawa Timur“
“salah sendiri ndekem di kos aja”
“yo ben nhu, lha kamu gak pernah ajakin, gak papa kan bang kalo gumun.namanya juga pertama kali. We.!! “
“iya gpp. Dah yang akur.”
Bang Ijul dan pak sopir cuma tersenyum melihat kelakuan mereka, kayak pinguin sedang tuit – tuit, Sekar dengan logat medok Jogjanya sedang Kinanti dengan gaya bicara yang ceplas – ceplos. Travel bergerak ke jalan Panjaitan yang dulunya Bromo Straat.
“bang Ijul, ini kota ko’ sepi gini apa habis digusur ya bang???”
“hush Sekar, sembarang aja kalo ngomong”
“lah ahbisnya sepi gini”
“anu mbak, apa mbak – mbak dan mas ini belum tahu??” tiba – tiba Pak Trimo sang sopir angkat bicara.
“memangnya ada apa pak?” aku coba menyelidik
“disini kan lagi ada isu Hantu Gembung”
“apaan itu pak??” Tanya bang ijul
“hantu tanpa kepala pak, isunya dia itu korban tabrak lari dan sampai putus kepalanya, terus mencari kepalanya, tabrakanya terjadi sepekan yang laau, ya di jalan ini” Jelas pak trimo.
“ hwaa….Kinanti…!!!”
Tiba – tiba Sekar memelukku erat – erat sambil menyembunyikan wajahnya ke ketiakku.
“lha knapa ni anak??”
“bang Ijul ini gimana tho??katanya mau liburan ko’ malah milih tempat horror gini, ini mau ngurusin anak – anak atau mau jadi pencari hantu bang.. huuu” protes Sekar ke Bang Ijul.
“ lha abang kan juga gak tahu, tenang ajah Sekar, hantunya kan gak punya kepala, jadi gak tau arah dan paling cuma duduk – duduk aja di pinggir jalan, gak bisa kemana – mana, lagian kalo mau ngejar kita ya gak mungkin, kita kan pakai mobil” cerocos Bang Ijul sekenanya
“gitu yah bang??”
“pokoknya kalo hantu muncul biar abang yang hadapin.”
“bener ya bang”
“iya.”
“kamu gak takut tah Ti dengan hantu?” tiba- tiba sekar melihatku
“ ya ndak lah, ngapain takut, takut itu sama Alloh. Wong hantu juga ciptaan Alloh, bacain al quran wesss!!! Ilang, ya tho??”
“”hehe, iya juga ya” sekar Cuma meringis.
Namun sekilas kemudian aku merasakan bulu kudukku merinding, entah kenapa aku tiba – tiba harus melihat ke arah bahu jalan sebelah kiriku, seperti di arahkan.
“astagfirulloh…” reflek aku istigfar.
“ada apa Ti.?” Sekar dan Bang Ijul bersamaan.
“oh gak papa” jawabku sambil meminum air di botol, mencoba menenangkan hatiku.
Ternyata di bawah Pohon Bringin besar aku melihat ada seperti bayangan manusia tanpa kepala duduk di sana, tanpa ada yang menyadarinya. Namun Pak Trimo sepertinya juga mengetahuinya karena dia juga sempat melihat ke arah Pohon itu saat aku istigfar tadi. “ Ya Alloh jauhkan aku dari godaan syaiton yang terkutuk “ doaku berkali – kali selama dalam mobil, sementara Sekar tidur terlelap sambil bersender kepundakku, gak nyadar kalo berat nya kayak karung!!!! Huft!!!
Pemandangan yang cukup asing di sepanjang jalan membuatku tidak bisa tidur, padahal capek baget, baru saja ku mau pejamkan mata, ternyata mobil sudah berbelok ke arah gerbang sebuah bangunan.
“sudah sampai mas, mbak “ Pak Trimo membangunkan kita.
“oh iya pak, ayo – ayo kita turun, Sekar, Kinanti.. kita sudah sampai” Bang ijul perlahan bangun dan bangkit.
Kembali suasana seram tersuguhkan, bangunan yang sudah tidak terawat dengan cat mengelupas disana – sini, rumput – rumput yang tinggi, dengan pohon mangga yang besar melambai – lambai dan kiri kanan lahan kosong, hiii!!!!!! apa lagi ini???? jangan – jangan ini tempat tinggalnya……. Hiii!!!! astagfirullohhal adzim, buru – buru aku istigfar.
Setelah mengeluarkan barang dari Travel kami pun melangkah masuk ke rumah tersebut, sambil jalan aku perhatikan sebuah papan nama yang sudah miring bertuliskan “PANTI ASUHAN BAYANGKARI” o… lega… ini panti asuhan berarti bukan sarangnya si.... hehehe. Aku senyum – senyum sendiri, sedang Sekar masuk jalan sambil terkantuk – kantuk dan dibelakang Bang Ijul membawa barang bawaan kami, hmm dingin!!!.
Suasana berubah ketika kami mengetuk pintu dan berucap salam.
TOK..TOK !!!!!!, “asslamualaikum..asslamualaikum..”
“wa’alaikumusslam waroh matullohi wabarakatuh” terdengar suara anak kecil dari dalam dan, KREKKK!!!, pintu terbuka.
Seorang gadis kecil terlihat berdiri memandangi kami, mulutnya belepotan nasi.
“bunda Ros ada tamu!!!!” teriak gadis kecil itu sambil berlari kebelakang.
“suruh masuk dan duduk nak” suara lembut dari dalam menyahutnya.
“mongglo duduk “ gadis kecil itu mempersilahkan dengan bahasa terbata – bata, sambil mengintip dari balik korden pintu tengah, Lucu banget.
“bang ini rumahnya sapa tho??” tanya Sekar yang sudar sadar dari kantuknya.
“ ini rumahnya…” lum sempat Bang Ijul menjawab muncul seorang perempuan berjilbab hitam sepinggang dan gamis biru tua dengan kaos kaki putih melangkah dengan paras yang tidak asing bagiku juga, “Mba Ida” yah muka itu mirip Mba Ida kakak tingkat ku diLaskar Pena, yang sudah lama tidak bertemu karena ikut suaminya setelah menikah, “ oh Mbak Ida di sini ternyata” Aku meyelidik dalam hati.
“dah sampai Jul??capek?? anak – anak salim dulu sama mbak – mabk dan mase!!”
“iya bunda..” berhamburan anak – anak dari dalam antri salaman ke kita, serasa artis nih.. xixixixixi.
“iya Kak Ros, Alhamdulillah, hehe.. lumayan lah, sudah lama Aku tak ke sini.” jawab Bang Ijul sambil garuk – garus kepala yang tidak gatal.
“Kak Ros???” hampir saja aku berteriak, aku salah tebak, tapi kenapa mukanya mirip sekali.
“ bawa siapa aja Jul?”
“ oh iya Kak, ini adek tingkatnya Kak ida di Laskar Pena “
“ owh adiknya tingkatnya Ida yah!! namanya siapa??” sapanya lembut.
“ oh.. saya Kinanti mba” aku memeprkenalkan diri
“saya sekar, temene Kinanti”
Oalah.. kakanya Mba Ida, pantes mirip banget dari bicaranya pun juga mirip bagai pinang di belah – belah (ups..hehehe).
“ya dah kalian istirahat dulu yah. Sekar dan Kinanti di belakang Ijul tidur di sofa ya !”
“beres Kak”
Awal perjuangan …..
Setelah pagi, sambil menyantap singkong rebus di ruang tamu, Kak Ros menceritakan tentang apa yang tengah menimpa mereka, ternyata ada developer perumahan yang akan menggusur panti tersebut untuk dibuat taman rekreasi, cukup realistis karena tempat panti tersebut berdekatan dengan Gunung bromo, salah satu tempat wisata yang ada di kota ini. Pemerintah Daerah tidak bisa membantu banyak, selama ini panti di biayai oleh donator ala kadarnya, anak – anaknya juga dari keluarga tidak mampu yang orang tuanya entah kemana, Mba Ros sebenarnya kewalahan untuk menanganinya, namun dengan ala kadarnya dia tetap bertahan.
“terus giman mba?” tanyaku kepada Mba Ros.
“kita demo aja ke Pemda, giman mba??ntar aku yang cari massanya” Sekar tiba - tiba ikut nimbrung.
“ eh….emangnya kayak di kampus wae, .main demo sembarangan” Bang Ijul menyela.
“iya Sekar kita tidak bisa asal demo, yang ada kita pasti tetep kalah, kita harus bisa bikin sesuatu yang bisa menyelamatkan adek – adek kita ini” jelas Mba ros sambil memain – mainkan HP bututnya.
“anak – anak bisa ap mba , mereka masih kecil gak mungkin kan suruh buat sesuatu” tanyaku
“ itu yang harus kita pikirkan “ Bang Ijul menimpali.
“gini aja mb, kita buat pensi amal, biar warga pada peduli itu” tiba – tiba Sekar usul
“ bener juga tapi dana dari mana sekar??” Bang Ijul nyambung.
“hwheheh gak tahu Bang” jawab Sekar sekenarnya
“wu….Dasar!!!” jawab Bang Ijul gemas sambil menarik kerudung Sekar sampai menutup mukanya, terus pergi entah kemana, Sekar cuma bisa cembetut dengan kelakuan Bang Ijul.
Selanjutnya Bang Ijul sms aku kalau akan mengantarkan Mba Ros ke terminal karena mau berangkat ke Jakarta menemui developer tersebut untuk bisa melobinya dengan temannya di Jakarta, motor Mba Ros tidak lama karena pake dari Bromo ke Terminal Banyuangga karena jaraknya dekat.
Cinta mulai tumbuh …
Susah sekali mengurusi anak – anak kecil, hyaa!!!!! Di suruh belajar malah ada yang berlarian, ada yang lempar lemparan kertas, ada yang gulat… nangis.. aduh – aduh, padahal cuma anak 10 gimana kalo 20, 30 , ha.. AMPYUN!!!! Aku dan Sekar dibuat kalang kabut seharian dengan kenakalan mereka. Sementara Bang Ijul memasak mie goreng buat mereka untuk makan malam.
“adek – adek!!!! Makan malam siap, abang buatin mie goreng nih..siapa mau?????” teriak Bang Ijul sambil membawa nampan berisi mie goreng, baunya sedap tidak terkira ternyata pinter masak juga nih. Segera adek – adek itu menghentikan kegiatan “ Thowaf “, “Lempar jumroh “ dan sebagainya untuk santap malam.. “ah akhirnya bebas juga”.
Capek.. aku tidak ikut makan dengan mereka, aku dan sekar tertidur di sofa sambil saling sender satu sam lain.
“Ambilkan bulan bu… ambillkan bulan bu..” sayup – sayup terdengar suara nyanyian yang suka ku putar di laptopku ketika akan tidur. “uh!!!” ternyata aku tertidur di sofa, aku lihat sebelahku Si Sekar sudah tidak ada, “jam berapa ini??” Tanyaku dalam hati, aku mencari – cari hape di sakuku.. “oh, sudah jam 10 malam” dengan masih terkantuk – kantuk aku mencoba mencari sumber suara tersebut, terdengar semakin jelas di tempat tidur anak – anak. Aku pun masuk, dan Subhanalloh tidak pernah aku lihat pemandangan seperti ini, yang tadinya bandel minta ampun kini takluk tertidur bahkan bernyanyi bersama dengan Bang Ijul, Bang ijul – bang Ijul hebat nian kau, sudah kayak bapak – bapak aja. Di kasur lain ada Sekar yang juga bernyanyi bersama sambil menepuk – nepuk pantat adek – adek, nyanyian mereka tirukan sampai mereka terlelap tidur.
“Mba Kinanti sini, bobok sama afifah” tiba – tiba si kecil Afifah berusaha menggapai – gapai aku dengan tangganya. Aku pun menurutinya, baru aku naik ke ranjang eh dua anak lainnya Dina dan Cindy ikut menyusul, “sambil nyanyi kayak mba Sekar yah” pinta Dina kecil sambil memelukku. “ iyah” sambutku.
Malam itu kamar tidur besar diwarnai nyanyian tidur untuk anak – anak, satu persatu aku memandangi wajah – wajah mereka saat tidur, begitu polos dan lugu, akhirnya akupun terlelap bersama mereka.
Paginya sambil melihat wajah Bromo dari panti, Bang Ijul mengajak rapat tentang apa yang akan disajikan Ahad nanti ketika developer datang, dan akhirnya kita akan membuat pentas seni dan tari yang akan dilakukan adek – adek, Sisa hari yang tersedia benar - benar kita gunakan untuk persiapan, “ya alloh ini usaha kami yang bisa kami lakukan, ridhoi kami semoga bisa bermanfaat bagi adek – adek ini” amin, doa kami di sela – sela latihan.
Hari penentuan… semangat nak. !!!
Ruangan telah tertata rapi, kursi, lantai, sampai halaman semua telah bersih, sedari pagi Bang Ijul sibuk bebersih sampai kinclonk . hehehe. Sementara aku mendandani para “kurcaci”, dengan pakaian terbaik mereka. Kalo kayak gini manis – manis juga mereka.
Hari ni Mba Ros akan pulang dengan developer, dari hasil lobi di Jakarta kemaren bahwa mereka mau tidak menggusur asal anak – anak itu dipandang mampu dalam pendidikan dan hari yang di janjikan telah tiba, kita akan buktikan bahwa anak – anak kecil ini masih layak untuk tinggal di sini bahwakan layak mendapatkan yang lebih baik, Itulah tekadku.
“ adek – adek makan dulu.. mie kesukaan kalian” tiba – tiba Bang ijul muncul dengan senampan mie goreng.
“asyikkk!!!!”
Mereka makan dengan lahapnya, tidak ada kecemasan diraut muka mereka, malah kami lah yang harap – harap cemas dengan apa yang terjadi nanti, tapi kami sudah serahkan kepada Alloh apapun keputusanya, kami telah berusaha semampu kami.
“ Mba Kinanti sini Afifah suapin, ..” tiba – tiba Afifah mendekatiku sambil membawa sejumput mie dan menyuapkan ke mulutku
“ iya.. a……”
“ ah .. tangan afifah jangan dimakan juga dunk..”..
Gelak tawa pecah kembali.. hangat sekali.
Sejurus kemudia suara mobil terdengar di depan rumah, sekar segera melihatnya..
“mbak Ros datang, ayo siap – siap “
Semuanya memberesi tempat makan dan membersihkannya.
“assalamualikum anak – anak “ sapa Mba Ros ketika memasuki ruangan tamu.
“ wa’alaikumussalam.. bunda kita kangen!!!” anak – anak berlarian memeluk Mba Ros.
“iya – iya, bunda juga kangen, kalian sehat kan??” suara parau Mba Ros keluar.
“ iya sehat dunk bunda, Bang Ijul masakin kita enak – enak, hehe “ jawab Budi memegang perut gendudnya.
“ baguslah kalau begitu, ini nanti bapak – bapak yang akan melihat kalian pentas seni” jelas mba ros smbil mengenal Pak Albert dan Pak Edo.
“hallo anak – anak “ sapa mereka.
“hallo Pak, walaikumussalam” jawab anak – anak serempak.
“eh , iya, assalamualaikum” Pak Albert salam dengan malu – malu.
Hening menyelimuti ruangan, Mba Bros duduk di sofa dengan kedua developer itu, sedang aku mempersiapkan anak – anak di panggung, Bang Ijul bersiap dengan handycamnya. Sedang Sekar masih meramu lagu dan rekaman yang kemaren telah diabadikan Bang Ijul. Segera setelah musik mengalun dan anak – anak mulai beraksi.
“Ambilkan bulan bu, ambil kan bulan bu..” itu lagu pertama yang mereka persembahkan. Berikut dengan koreo yang aku ajarkan. Serasa tidak percaya, dengan manisnya mereka bisa melakukan apa yang aku ajarkan. Subhaanalloh indahnya, satu jam telah berlalu, decak kagum tak hentinya mengalir dari ku dan teman – temen. Acara selesai, Mba Ros mendekati mereka, tak terasa bulir – bulir bening mengalir di pipi lembutnya dan dipeluknya satu persatu.
“bunda saya kalian” ucap Mba Ros lirih.
“kita juga sayang bunda.” Balas mereka dengan serentak.
Suasan mengharu biru, kita pun ikut terbawa, tak lama terdengar suara tepuk tangan dari belakang, plok. Keprok keprok
“selamat Ibu Ros, kami tidak akan menggusur tempat ini, kami akan membangunnya menjadi play group dan anak – anak bisa tetap tinggal disini” jelas pak edo
“ alhamdulilillah, terima kasih pak” jawab Mba Ros, dan seketika itu dia sujud syukur.
Tangis bahagia mewarnai ruangan itu, apa yang di takutkan tidak terjadi dan atas pertolongan Alloh anak – anak tetap bisa tinggal di panti ini.
Aku pulang …
Suasana harus kembali menyelimuti saat kita pamitan untuk pulang ke Solo, Afifah menangis sejadi – jadinya tidak mau ditinggal ketika aku mau pulang, kita bisa pulang setelah mengjak Afifah jalan – jalan di lereng Bromo sampai dia tertidur dipelukanku.
Laju bis membawa kami pulang ke kota Solo, gerbang selamat jalan telah terlewati, hmm selamat tinggal Probolinggo.
“Ti.. lum lama pisah kok udah kangen yah sama mereka??” tiba – tiba Sekar ngomong sambil senderan ke kepalaku.
“iya nih., pa apalagi Afifah tuh,.. lucu bgt, ntar kita bisa punya anak – anak kayak mereka gak ya ??” aku ajak Sekar untuk berhanyal.
“kar.. Sekar.. ko diem siiih, di tanyain juga..” aku kesal pertanyaanku tak terjawab.
GRR…. WUSS….!!!!!!!!!!!!!!!
“ ya Alloh, cepet banget anak ini tidur.. ngorok lagi huft.. “ protesku dalam hati sambil ku coba pejamkan mata.
“Aisyah adinda kita …. “Sayup sayup terdengar lagu itu, pertama aku kira mimpi karena suara – suara kecil yang melagukannya, “tidak mungkin mereka ada disini”, namun suara semakin kuat, aku coba buka mata, ah,, ternyata pengamen kecil sedang menyanyikannya di bis yang kami tumpangi menuju Solo. Aku coba menikmatinya sebagai pengantar aku pulang ke Solo. Begitu cepat waktu berlalu, dari sebel sekarang menjadi sayang dan bangga kepada mereka adek – adek itu, tak terasa butiran bening mengalir melewati pipiku tanpa bisa aku hentikan.
“ya Alloh lindungilah mereka, dan mudahkan apa yang menjadi cita – cita mereka kelak, aku sayang mereka ya Alloh. amiin” doaku dalam hati, terlulur tangan kecil ke hadapanku ternyata lagu sudah selesai, aku berikan lima ribuan terakhirku kepada anak kecil itu, dan dia tersenyum padaku. Selamanya lagu - lagu ini akan menjadi lagu rinduku untuk mereka.
- 22 juni 2011, Probolinggo dalam khayalanku -

ini ikut lomba ceprn FLP probolinggo lho..doain yah
BalasHapus