Oleh: Gerakan Pena Nusantara Purwodadi
Juma’t 13 april 2012, hari yang cukup cerah, awan berarak menari di birunya langit, dan matahari menyengat dengan teriknya. Setelah libur saru periode halaqoh, tepat pekan kedua bulan April diadakan kembali Writing Halaqoh, tema yang diangkat pada pertemuan kali ini tentang ranjau penulis, setelah pada pertemuan sebelumnya diisi dengan motivasi untuk menulis.
Halaqoh epsisode ini dimentori oleh penulis grobogan yaitu Badiatul Muchilisin Asti, yang sekaligus sebagai penasehat dari Gerakan Pena Nusantara Purwodadi. Peserta yang ikut pun beragam, dari beberapa sekolah lanjutan tingkat atas yang ada di Purwodadi. Halaqoh diawali dengan sharing tentang pengalaman menulis yang di alami oleh peserta dipandu oleh koordinator halaqoh yang merangkap sebagai koordinator GPN Purwodadi, Elrowi Bin Abdurrahman.
Selanjutnya dilanjutkan dengan pembahasan materi. Pada awal pembicaraan mentor memberikan definisi tentang ranjau penulis. Ranjau penulis didefinisikan sebagai hal – hal yang dapat menjadikan hambatan bagi perjalanan seorang menulis bahkan dapat menjadikan seorang penulis tidak menulis lagi. Pak Asti, begitu beliau akrab disapa mendifinksikan tahapan pada ranjau penulis, yang pertama adalah tahap pra, atau tahap sebelum menulis. Dalam tahap Pra menulis ini dibagi dalam beberapa kategori, antara lain:
1. Persepsi
Persepsi atau anggapan atau pandangan. Persepsi ini merupakan hal yang paling mendasar dalam memotivasi diri untuk menulis. Bagaimana bisa lancer menulis jika persepsi kita tentang dunia kepenulisan sudah tidak menyenangkan?. Bangun persepsi positif kepada segala sesuatu tentang dunia kepenulisan maka kita akan terbangun untuk giat menulis. Namun jika dalam persepsi kita kegiatan menulis itu sudah kita anggap negative, misalnya: tidak ada prospek, atau tidak berguna, dan lainnya hal – hal yang dianggap merugikan dan kegiatan menulis. Maka secara tidak langsung kita sudah menolak kegiatan tersebut, kita tidak akan bisa menikmatinya, dan tidak akan mungkin kita menghasilkan sebuah karya yang indah.
Jadi buatlah persepsi positif kita untuk kegiatan menulis ini. Sebab persepsi ini merupakan salah satu hal yang akan menentukan keberlangsungan dari kegiatan menulis seseorang. Berlanjut atau tidak kegiatan menulis tergantung dari positif atau negatif persepsi seseorang terhadap kegiatan menulis itu sendiri. Sepakat?
2. Ide
Hal kedua yang sering menjadi ranjau adalah ide. Ide merupakan gagasan utama yanga mendominasi suatu tulisan. Hambatan klasik bagi penulis pemula adalah ide, mereka mengaku sering terganjal menulis dikarenakan ketiadaan ide. Oleh karena itu berusahalah untuk menggali ide yang banyak, jadikan apa saja yang ada di sekitar kita menjadi bahan ide yang akan menjadi sebuah tulisan.
Ide dapat diperoleh dengan berbagai cara, salah satunya dengan rajin membaca. Bacaan pun bisa beragam, bisa buku, majalah, Koran dan lainnya. Ada sebuah ungakapan bahwa seorang penulis yang baik adalah pembaca yang baik juga. Ungkapan tersebut mengisyaratkan bahwa membaca merupakan sarana untuk membantuk dalam proses penulisan baik untuk memunculkan ide maupun untuk belajar struktur dan tata bahasa. Jadi jangan bosan untuk membaca.
3. Mentalitas
Ini yang paling mendasar dalam ranjau ini. Mentalitas berada dalam diri seseorang, jadi kuat atau tidaknya tergantung pada diri orang tersebut. Seorang yang mempunyai mentalitas menulis yang kuat akan berusaha sebiasa mungkin untuk melakukan hal – hal yang dapat menunjang kegiatannya dalam menulis. Lain halnya jika mentalitas yang dimiliki masih setengah – setangah, maka dia akan mudah tergiur dengan kegiatan yang bertolak belakang dengan kegiatan penunjang kepenulisan.
Mentalitas dapat dipupuk dengan berbagai hal, selain dari diri sendiri tentunya. Antara lain:
a. Memotivasi diri
Tak jenuh atu bosan ketika mengalami hal – hal yang tidak berkenan ketika menjalani kegiatan menulis. Beranggapan bahwa entah cepat atau lambat kegiatan menulis ini akan membawa manfaat untuk diri dan sekitar.
b. Mengakrabi dunia kepenulisan
Ini mutlak dilakukan, siapa yang ingin menjadi penulis maka harus akrab dengan dunia tulis – menulis, entah itu pelatihan, seminar, group, komunitas, lomba dan hal – hal lain yang berhubungan dengan kepenulisan.
c. Menjadi lain dari yang lain
Menjadi penulis bisa dikatakan menjadi pribadi yang asing, mengapa? Karena disaat yang lain bersantai – santai dalam hal – hal yang melenakan, kita berkutat dengan pena atau tulisan dan sebaris literatur.
d. Rela berkorban
Rela berkorban dalam hal ini adalah mau untuk berkorban demi hal – hal yang berkaitan dengan dunia kepenulisan, sebagai contoh: lebih memilih pergi ke perpustakaan untuk membaca daripada sekedar jajan dikantin sekolah, berhemat uang saku untuk dibelikan buku sebagai bahan bacaan guna menunjang dalam menulis, bila tidak punya mesin ketik atau komputer mau meluangkan waktunya untuk pinjam atau mengetik di rental demi tulisan.
e. Membranding sebagai penulis
Menjadi penulis tak harus mempunyai karya yang popular. Kita bisa memulai dari diri sendiri, kita sebut diri kita sebagai penulis, maka alam bawah sadar kita akan terus berkata bahwa kita penulis, dan akhirnya kita akan termotivasi untuk menulis. Kita senantiasa memperkenalkan diri sebagai penulis, meskipun kita masih pemula. Memberikan lebel pada diri sendiri sebagai penulis yang secara tidak langsung menjadi do”a dan harapan bagi kita bahwa suatu saat kita akan menjadi penulis dimuali dari saat ini.
Demikian penjabaran dari ranjau penulis pada tahap Pra menulis atau tahap sebelum menulis, walaupun mungkin masih banyak ranjau – ranjau yang lain, namun secara garis besar tiga ranjau yang tersebut diatas yang patut diwaspadai para calon penulis. Sehingga tidak terjebak dalam ranjau – ranjau yang telah ada, sehingga mematikan kreativitas dalam menulis.
Diakhir pertemuan, mentor memberikan tugas kepada para peserta, pada pertemuan berikutnya diminta membuat karya yang nantinya akan di bedah bersama, dan juga membawa Koran edisi Ahad, karena banyak karya tulis yang dimuat disana, sehingga peserta bisa belajar dengan karya tulis tersebut dan diharakan bisa ikut mengirimkan ke redaksi Koran tersebut.
Demikian reportase yang bisa kami berikan, semoga bisa memberikan manfaat dan memotivasi untuk menulis. Sampai jumpa lagi pada halaqoh berikutnya.
Salam pena.
- Gerakan Pena Nusantara Purwodadi -
Minggu, 15 April 2012
Reportase Writing Halaqoh “Ranjau Penulis” (Bagian 1)
Posted on 05.46 by ksatria bumi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Maaf..kalau boleh komentar..tapi ini menurut saya loh,menurut saya..emm..kalau menurut saya pribadi, reportase itu kan nonfiksi ya?jd menurut saya..emm..kalau menurut saya tdk menngunakan kata2 yg mengandung makna kata konotatif atau bermajas gt, seperti kata "awan berarak menari di birunya langit, dan matahari menyengat dengan teriknya."
BalasHapusTapi ini menurut saya loh..emm..sekali lg ini menurut saya..heu2..
iya juga seh.. makasih ya masukannya..
BalasHapus