DibaIik Pohon Pisang
Oleh: Elrowi
Sabtu, Saat Pelantikan Ambalan
Gerimis mendera area sekolahku setelah dari waktu Dhuhur hujan yang tak henti – henti. Hari itu adalah akhir pekan, saya tidak pulang kampung karena ada pelantikan Ambalan Pramuka, saat itu saya sudah tingkat tiga di STM, dan bersama dengan tingkat dua akan melantik anggota Ambalan baru. Namanya Ambalan SOEKMA (Soekarno - Fatmawati).
Sore itu, peserta mulai berdatangan, tak banyak memang namun yang penting semangat mereka untuk melakukan kegiatan positif sangat kita hargai. Kegiatan mulai dilaksanakan setelah sholat Ashar, dimulai dengan menjemput “para Jendral” alias menjeput kakak kelas di tempat masing – masing dengan tugas yang nantinya diberikan kepada mereka setelah pulang dari penjemputan.
Sampai akhirnya pada rangkaian acara dari pos ke pos, kebetulan aku, Naryono dan Bambang sedang menjaga pos mental di samping bengkel Las. Cukup gelap, karena hanya ada satu lampu neon di depan bengkel selebihnya bolam kecil yang remang – remang, tak terlalu terang. Di depan kami ada bangkai – bangkai mobil yang dipakai praktek Jurusan Otomotif dan di samping kanan kami banyak pohon pisang berjajar, entah berapa pohon ada di sana. Ada tiga orang yang berjaga, peserta sudah mulai berdatangan dengan kelompoknya masing masing. Kita atur tiap kelompok di pos hanya sepuluh menit. Awalnya berjalan lancar, teriakan dan adu argument menggema di pos kita, memang untuk menguji mental peserta. Sampai pada kelompok ke empat dari delapan kelompok yang ada, ada kejadian yang cukup menegangkan.
“Mas, ada bayangan hitam di balik pohon pisang itu,” ucap bambang dengan tiba – tiba.
Dia sedang berdiri di samping kananku sambil menunjuk ke arah pohon pisang tak jauh dari posisi kita berdiri, sedang Naryono masih asik membentak peserta. Memang agak jauh dari posisi kita, namun cukup jelas juga bila ada orang atau sesuatu yang ada di sana karena sedikit tersorot lampu.
“Mana Mbang?” tanyaku ke Bambang, sambil celingukan ke arah pohon pisang.
Mataku mulai menyapu area dimana pisang – pisang berdiri berjajar, memang di sana sangat pekat, namun aku tidak melihat adanya bayangan hitam yang di maksud Bambang.
“Mas, dia bergerak mendekati kita,” ujar Bambang kembali.
Belum sempat aku menjawabnya, tiba – tiba mataku merasa dialihkan kepada jajaran pisang itu, tak kulihat bayangan yang dimaksud Bambang, namun entah kenapa bulu kuduk di tengkuk serasa berdiri. Merinding. Astagfirulloh. Bambang mengatakan kalau bentuknya tinggi besar, mulai mendekat dari pohon pisang yang paling belakang perlahan ke pohon pisang di depannya, dan mulai ke dua pohon pisang terakhir yang dekat dengan kita.
Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, Segera aku sudahi pos itu, agar jangan sampai peserta melihat bayangan hitam yang bersembunyi di balik pohon pisang, cukup Aku yang merasakan dan Bambang saja yang melihatnya. Akhirnya kita pindah ke tempat yang lebih terang, agar lebih terjaga dari – hal – hal yang tidak diinginkan.
Alhamdulillah, pelantikan malam itu berjalan dengan lancar sampai pada pagi harinya.
Purwodadi, Februari 2011
Memori Pramuka di STEMBA
Biodata
Penulis berasal dari kota Grobogan, Jawa Tengah. Seorang guru STM yang juga mulai menekuni dunia creative writing. Menggagas komunitas Gerakan Pena Nusantara Purwodadi di daerahnya. Bernama asli Latif Rowi, dan Elrowi di pilih sebagai nama penanya. Dapat di hubungi di email: latifrowi@yahoo.com , di blog:elrowi.blogspot.com, facebook: elrowi bin Abdurrahman dan HP: 085710685001.
Senin, 27 Februari 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar