ada ungkapan jawa “ajining diri saka lathi ajining raga saka busana” yang artinya berharganya diri dari bibir ( ucapaan ) dan berharganya badan ini dari pakaian yang dipakainya. hmm sejenak aku ingin merenungkannya ( hahaha sok nih ..sok pemikir ^^ ), mungkin benar juga yah, kalo kita ceplas ceplos pas ngomong, pasti orang – orang kagak suka dengan kita. Apa lagi ngomong jorok pasti kita akan di omongin yang enggak – enggak terhadap perilaku bibir kita “ ganteng – ganteng kok jorok ngomongnya “ mungkin seperti itu. Atau kalo kita kasar dengan orang dengan lisan kita maka kita akan dicap orang dengan orang yang kasar, dan sebaliknya, terus ketika kita pakai baju yang indah atau pantas dan rapi maka kita akan di lihat orang dengan sejuk, sedap dipandang dan menjadikan orang suka terhadap kita sehingga kita pun akan di hargai, namun ketika kita memakai baju yang asal – asalan padahal kita punya yang lebih baik daripada itu, maka orang lain akan memandang kita kurang sedap, minimal ntar ujung - ujungnya di panggil abang becak nah lhho.. padahal sekarang abang becak rapi2 atau di usir hiushh di gira orang gila.. ckckck.., kalo di TNI ada pangkat LETNAN, LETJEN, nah kalo kita pake baju sembarangan terus belum mandi pula jadinya pangkat kita LETHEK!!! Alias AMBURADULL gak sedap dipandang babar blazz!!!!!.. huhuhu. Dari hal itu jadi ingat kejadian beberapa waktu lalu, ketika aku memakai “Jaket Kebesaranku” ( emang ukurannya XL jadinya kebesaran hiks ), dijaket itu terdapat lambang Ukm Rohani Islam Di Kampusku, JN UKMI 2010, ( Jama’ah Nuruh Huda Unit Kegiatan Mahasiswa Islam ) wah keren mungkin kalo orang liat, padahal aku cuma ngikut bikin jaketnya doank, bukan aktivis UKMnya, aku cuma penggemar he….dan historisnya aku bisa dapet jaket itu karena waktu aku pengin jaket, eh pas maen di NH ada inpo bikin jaket, nah kalo bikin rame – rame kan biasanya murah, dan nantinya ada logo UNS - nya, yah jadinya beli deh, itung – itung sebagai kenang – kenangan. Hehehe.
nah kembali ke peristiwa tadi, sewaktu aku ke rektorat mengurusi BPI temenku, karena waktu sudah ashar maka aku mencari mushola rektorat untuk sholat, nah kebetulan di sana juga ada karyawan yang suka sholat tepat waktu juga, setelah wudhu dan sholat sunnah kita pun nunggu iqomah di kumandangan. Dan bener selang beberapa waktu iqomah dikumandangkan, kita pun berbaris di shaf yang di tentukan, nah pada saat tingak tinguk (nolah – noleh ) cari imam, eh ada yang nyorong - nyorong badan aku “ ayo mas monggo diimami” kata seorang bapak yang memakai peci putih, nah lhopadahal aku paling muda dan ganteng pula (ups hehe..keceplosan ). Yang lain udah sepuh atau tua dan lebih pantes jadi imam karena aku yakin kesholehannya sam a, malah aku yang masih muda ini masih jauh dari sholeh, pikirku saat itu. Maka dengan halus aku coba menolaknya “mboten pak, njenegan mawon ingkang sepuh..” eh dengan santainya bapaknya bilang..” lha adek kan tiyang (orang ) NH (nurul huda) “ JDERR!!!!!!!, bagai dijepit idungku dengan pintu, oalah ternyata gara – gara jaketku aku di suruh imam betapa husnudhonnya mereka, yah pada akhirnya aku pula yang ngimami.. Ya Alloh semoga aku bisa lebih baik dari yang mereka pikirkan. Doaku saat itu. Sambil nyengir aku maju ke depan mengimaamai para karyawan rektorat.
sehingga dari sini dapat aku simpulkan, kita kudu berhati – hati terhadap baju kita, apa lagi ketika memakai pakaian dengan symbol – symbol kebaikan. Hati – hati terhadap baju yang kita pakain secara lahir maupun batin, baik berhati – hati secara dhohir dalam artian menjaga baju kita dari najis, atau kotoran yang menyebabkan baju kotor, ataupun menjaga baju secara simbolik dan maknawi, simbolik di sini seperti, kita berpakaian dengan jaket NH UKMI tadi, bahwa tidak sembarangan ketika memakai jaket tersebut, tidak mungkin seorang yang memakai jaket tersebut akan melakukan hal – hal sembrono misalkan ke diskotik, atau kebut – kebutan liar, terus malak orang dan lain sebagainya. Ya tho??? Sepakat?? Kudu sepakat.. hahaha mekso ik ^^. dan ngomong – ngomong soala baju, dalam islam juga di atur lho dengan bagaimana baju kita, harus nutup aurot dan sebagainya, khusus untuk muslimah malah lebih teliti, hanya telapak tangan dan muka yang boleh kelihatan, dan jangan tipis dan ketat juga. Dan baju muslim dan muslimah pun bisa menjadi perisai kita untuk menjaga izzah ( kehormatan ) kita sebagai muslim, biar tidak ada gosip, lha pake baju koko kok kayak gitu pacaran , dua – duaan dll, atau pake jilbab ko genits, kok pake motor ngebut, kok ngerumvi… dll. Jadi baju juga bisa berfungsi ganda selain menutup aurot juga penjaga kehormatan kita kalo kita bisa menggunakannya dengan benar.
Dan paling penting adalah “baju” batiniyah kita yaitu agama kita, jangan sembarangn kita memakainya, pakailah dengan kesungguhan hati dan jaga dengan sekuat tenaga, karena “ baju “ yang kita pakai ini memeiliki tanggung jawab yang besar di dunia dan di akherat kelak, jangan sampai dengan baju ini kita bertindak sembrono, bertindak yang tidak sesuai dengan “SOP baju” ini, jangan sampai ada komentar “.. ohh. Islam tuh gitu yah, islam ko gitu sih.. islam ko begono.. begeichu.. begindang nek “ yang semuanya mengarah pada hal negative, nah lho.. padahal bukan salah baju kita namun salah kita yang memakai baju tersebut dan tidak memperlakukan dengan baik.
Yah semeoga kita semua bisa berhati – hati dalam memakai “BAJU” kita, sehingga “BAJU” kita pun bisa sarana untuk menjaga kita agar selamat dunia akherat.
Wallohu a’alam bisshowab.
Kota daun , penghujung malam
Muhasabah untuk diri sendiri.
nah kembali ke peristiwa tadi, sewaktu aku ke rektorat mengurusi BPI temenku, karena waktu sudah ashar maka aku mencari mushola rektorat untuk sholat, nah kebetulan di sana juga ada karyawan yang suka sholat tepat waktu juga, setelah wudhu dan sholat sunnah kita pun nunggu iqomah di kumandangan. Dan bener selang beberapa waktu iqomah dikumandangkan, kita pun berbaris di shaf yang di tentukan, nah pada saat tingak tinguk (nolah – noleh ) cari imam, eh ada yang nyorong - nyorong badan aku “ ayo mas monggo diimami” kata seorang bapak yang memakai peci putih, nah lhopadahal aku paling muda dan ganteng pula (ups hehe..keceplosan ). Yang lain udah sepuh atau tua dan lebih pantes jadi imam karena aku yakin kesholehannya sam a, malah aku yang masih muda ini masih jauh dari sholeh, pikirku saat itu. Maka dengan halus aku coba menolaknya “mboten pak, njenegan mawon ingkang sepuh..” eh dengan santainya bapaknya bilang..” lha adek kan tiyang (orang ) NH (nurul huda) “ JDERR!!!!!!!, bagai dijepit idungku dengan pintu, oalah ternyata gara – gara jaketku aku di suruh imam betapa husnudhonnya mereka, yah pada akhirnya aku pula yang ngimami.. Ya Alloh semoga aku bisa lebih baik dari yang mereka pikirkan. Doaku saat itu. Sambil nyengir aku maju ke depan mengimaamai para karyawan rektorat.
sehingga dari sini dapat aku simpulkan, kita kudu berhati – hati terhadap baju kita, apa lagi ketika memakai pakaian dengan symbol – symbol kebaikan. Hati – hati terhadap baju yang kita pakain secara lahir maupun batin, baik berhati – hati secara dhohir dalam artian menjaga baju kita dari najis, atau kotoran yang menyebabkan baju kotor, ataupun menjaga baju secara simbolik dan maknawi, simbolik di sini seperti, kita berpakaian dengan jaket NH UKMI tadi, bahwa tidak sembarangan ketika memakai jaket tersebut, tidak mungkin seorang yang memakai jaket tersebut akan melakukan hal – hal sembrono misalkan ke diskotik, atau kebut – kebutan liar, terus malak orang dan lain sebagainya. Ya tho??? Sepakat?? Kudu sepakat.. hahaha mekso ik ^^. dan ngomong – ngomong soala baju, dalam islam juga di atur lho dengan bagaimana baju kita, harus nutup aurot dan sebagainya, khusus untuk muslimah malah lebih teliti, hanya telapak tangan dan muka yang boleh kelihatan, dan jangan tipis dan ketat juga. Dan baju muslim dan muslimah pun bisa menjadi perisai kita untuk menjaga izzah ( kehormatan ) kita sebagai muslim, biar tidak ada gosip, lha pake baju koko kok kayak gitu pacaran , dua – duaan dll, atau pake jilbab ko genits, kok pake motor ngebut, kok ngerumvi… dll. Jadi baju juga bisa berfungsi ganda selain menutup aurot juga penjaga kehormatan kita kalo kita bisa menggunakannya dengan benar.
Dan paling penting adalah “baju” batiniyah kita yaitu agama kita, jangan sembarangn kita memakainya, pakailah dengan kesungguhan hati dan jaga dengan sekuat tenaga, karena “ baju “ yang kita pakai ini memeiliki tanggung jawab yang besar di dunia dan di akherat kelak, jangan sampai dengan baju ini kita bertindak sembrono, bertindak yang tidak sesuai dengan “SOP baju” ini, jangan sampai ada komentar “.. ohh. Islam tuh gitu yah, islam ko gitu sih.. islam ko begono.. begeichu.. begindang nek “ yang semuanya mengarah pada hal negative, nah lho.. padahal bukan salah baju kita namun salah kita yang memakai baju tersebut dan tidak memperlakukan dengan baik.
Yah semeoga kita semua bisa berhati – hati dalam memakai “BAJU” kita, sehingga “BAJU” kita pun bisa sarana untuk menjaga kita agar selamat dunia akherat.
Wallohu a’alam bisshowab.
Kota daun , penghujung malam
Muhasabah untuk diri sendiri.
0 komentar:
Posting Komentar